Thursday, February 22, 2007

The Alchemist - Paulo Coelho - Gramedia, 2006

Buku ini berkisah tentang perjalanan seseorang dalam mengetahui misi hidupnya. Seringkali, apa yang ingin diraih terbentang sangat jauh di depan sehingga untuk meraihnya terlihat mustahil. Pembelajaran, pemahaman, keyakinan baru selalu mendapatkan pengujian yang sepadan. Akibatnya putus asa atau menyerah meneruskan perjalanan alih-alih telah mendapatkan kenyamanan pun menjadi pilihan..

”Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka..”
”Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.”
”Hanya ada satu cara untuk belajar,” sahut sang alkemis.
”Melalui tindakan. Segala yang kau ketahui akan kau pelajari melalui perjalananmu..”
”Aku seorang alkemis karena aku memang alkemis,” kata sang alkemis. ”Aku mempelajarinya dari kakekku, yang belajar dari ayahnya, dan seterusnya, sampai ke masa penciptaan dunia. Pada zaman itu Karya Agung bisa dituliskan di batu zamrud. Tapi manusia mulai menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis traktat-traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu lebih banyak daripada orang2 lain. Akan tetapi Lempeng Zamrud itu masih hidup sampai sekarang. Lempeng Zamrud adalah jalur langsung menuju Jiwa Dunia.”
”Orang-orang bijak memahami bahwa alam semesta ini hanyalah citra dan tiruan akan surga. Dunia ini ada sekedar untuk menunjukkan bahwa ada dunia yang lebih sempurna. Allah menciptakan dunia ini agar melalui objek-objeknya yang terlihat, manusia bisa memahami ajaran-ajaran spiritualnya serta kebijaksanaan-Nya yang amat sangat mengagumkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan.”
” Dengarkan suara hatimu. Hatimu tahu segalanya, sebab hatimu berasal dari Jiwa Dunia, dan suatu hari nanti akan kembali ke sana.”

Ringan namun sarat pesan, bahasa yang digunakan sederhana tidak terlalu puitis namun tetap bisa indah, mungkin karena sederhananya, ya?
Bagi yang suka ’berkelana’ saya rasa buku ini mewakili apa yang selalu terjadi dan dirasakan oleh para seeker tersebut, sekaligus menjadi teman saat putus harapan menjelang..

4 comments:

Luluch The Cinnamon said...

Hallo,alumni FK UNS jg ya?angk 95-96 kah?saya jg alumni FK UNS,angk 2000.Btw,ALKEMIS is one of my favorite books,beside of Paulo Coelho's other book-ZAHIR.Simple but very enlightening :>

lintasberitakan said...

Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk Blogspot dengan installasi mudah. Salam!

http://www.lintasberita.com/Lokal/The_Alchemist_-_Paulo_Coelho_-_Gramedia_2006/

aLim h_Je' UpHe said...

bagus blognya

aLim h_Je' UpHe said...

good blog